Wednesday, July 13, 2011

Ramalan Joyoboyo dan korupsi Indonesia


Boleh percaya boleh tidak, sebagian besar masyarakat Indonesia masih percaya dengan yang namanya ramalan, bahkan tidak sedikit orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai peramal dan berusaha meraup materi dari profesinya tersebut. Ramalan biasanya akan dikenal dan dipercaya apabila ramalan itu terbukti kebenarannya, jika tidak maka hanya akan dianggap omong kosong belaka. Dari banyaknya ramalan yang beredar di masyarakat, ramalan Joyoboyo adalah yang paling dipercaya dan paling banyak dijadikan rujukan. Siapakah sebenarnya Joyoboyo sehingga ramalannya banyak diperhitungkan orang? Apakah peristiwa akhir-akhir ini juga bagian dari ramalan Joyoboyo?

Raja Linuwih

Joyoboyo adalah seorang raja dari Kerajaan Kediri yang memerintah sekira tahun 1135-1157. Gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Ia merupakan keturunan langsung Prabu Airlangga, penguasa tertinggi di Kerajaan Kahuripan yang merintah pada pada tahun 1019-1042. Selama ia memerintah, Kerajaan Kediri mengalami masa keemasan dimana Joyoboyo berhasil menyatukan Jenggala kembali ke Kediri. Kemenangan Joyoboyo atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Torehan-torehan mistik filosofis Raja Joyoboyo sangatlah terkenal, meski begitu Joyoboyo jelas bukanlah Naisbitt (Megatrend 2000) yang terkenal dengan pandangan visionernya tentang masa depan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Ia juga tidak bisa disandingkan dengan Alvin Tofler (The Third Wave) dengan teori kejutan gelombang perubahan zaman. Joyoboyo sangat berbeda dengan para futurolog yang mendasarkan visinya dalam menjelajah masa depan berlandaskan data-data empiris. Joyoboyo jelas tidak mempunyai dan menggunakan data-data tersebut untuk menerangkan kejadian-kejadian masa yang akan datang. Namun, tidak bisa dipungkiri banyak kejadian atau peristiwa dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia secara langsung maupun tidak langsung telah diungkapkan oleh ramalan Joyoboyo meski tersamar atau melalui lambang.

Ramalan Ketujuh Joyoboyo

Istilah Notonogoro adalah salah satu ramalan Joyoboyo yang sangat terkenal. Terminologi ini memprediksi siapa-siapa saja yang akan memimpin nusantara. Notonogoro bukanlah nama seseorang melainkan simbolisasi penamaan bagi pemimpin nasional (Presiden). Notonogoro dipisahkan menjadi No-To-No-Go-Ro yang selanjutnya diawali oleh “No” Sukarno, “To” Suharto, dan seterusnya. Sayang, selepas Presiden Suharto belum ada lagi nama Presiden Indonesia yang nyangkut dalam ramalan ini baik Habibie, Megawati, maupun Abdurahman Wahid (Gusdur) kecuali “No” untuk Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah Habibie, Megawati, dan Gusdur hanya sekadar Pemimpin transisi dan tidak masuk dalam Notonogoro? Kalau iya, bisa jadi hal ini benar mengingat ketiganya tidak genap lima tahun dalam memimpin bangsa ini. Selanjutnya, siapakah gerangan “Go” yang akan menjadi RI 1? Atau “Go” akan muncul kemudian setelah adanya pemimpin-pemimpin transisi yang lain? Kita tunggu saja.

Selain memprediksi kepemimpinan nasional, Raja Joyoboyo juga meramalkan perjalanan bangsa ini melalui bahasa-bahasa simbolik. Ada enam ramalan yang telah terjadi dan terbukti kebenarannya, yaitu pertama, Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong. Noyo Genggong dan Sabdo Palon adalah nama abdi dalem Kerajaan Majapahit, sedangkan murca berarti musnah, artinya runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kedua, Semut Ireng Anak-anak Sapi (Semut hitam anak-anak Sapi), artinya Belanda datang ke Indonesia dan menjajah negeri ini. Ketiga, Kebo Nyabrang Kali (Kerbau menyeberang sungai), artinya Belanda kenyang dan hengkang dari Indonesia. Keempat, Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol Kepalang (dijajah seumur jagung oleh orang cebol) ini zamannya Indonesia dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun. Kelima, Pitik Tarung Sak Kandang (Ayam bertarung satu kandang) artinya perang saudara zaman Bung Karno. Keenam, Kodok Ijo Ongkang-ongkang (Kodok hijau berkuasa) ini eranya tentara berkuasa pada saat Soeharto menjabat sebagai Presiden. Sedangkan ramalan  yang ketujuh adalah Tikus Pithi anoto baris (Tikus Pithi menata barisan). Apa makna dari ramalan ketujuh Joyoboyo ini?

Budayawan Sujiwo Tejo dalam tulisannya “Waspadai Ramalan Ke-7 Joyoboyo” Kompas (24/4/2009) mentafsirkan ramalan ketujuh Joyoboyo “Tikus Pithi anoto baris” sebagai barisan pemberontakan rakyat nusantara dari berbagai penjuru. Geger tahun 1998 yang melengserkan Presiden Soeharto dianggapnya belum merata dan bisa dikatakan hanya pecah dibeberapa kampus, DPR/MPR, Glodok dan beberapa tempat di Jakarta. Situasi akan jauh berbeda dibandingkan berkobarnya api tikus pithi anoto baris yang sekamnya kini mulai rantak membara di seluruh Nusantara karena cekcok pemilu legislatif. Tapi itu adalah tafsir di tahun 2009 yang telah berlalu. Bagaimana dengan situasi akhir-akhir ini?

Tikus Pithi Korupsi Indonesia

Tikus saat ini adalah simbol dari korupsi. Sifat Tikus yang suka mencuri, gesit, rakus, kotor, bau, dan membawa penyakit sama persis dengan sifat koruptor yang tidak tahu malu, rakus, dan suka mencuri uang negara. Apabila Tikus dalam ramalan ketujuh Joyoboyo “Tikus Pithi anoto baris” dimaknai sebagai korupsi, maka bisa jadi benar ramalan tersebut mulai digenapi akhir-akhir ini.

Tanda-tanda ramalan ketujuh Joyoboyo mulai digenapi tampak terlihat pada banyaknya kasus-kasus mega korupsi yang menggurita di negeri ini. Selain itu, hilangnya rasa malu para pelaku korupsi dan serangan balik koruptor (corruptors fight back) yang ditujukan untuk melemahkan lembaga penegak hukum yang menangani korupsi, dalam hal ini KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan adalah tanda-tanda yang tak terelakkan. Tapi apakah itu merupakan klimak dari ramalan ini? Tentu saja tidak, akan ada goro-goro di mana keadaan bangsa ini tidak lagi normal, adanya kesewenang-wenangan, penyalahgunaan kekuasaan, dan peristiwa-peristiwa yang akan mengingatkan bangsa ini untuk kembali ke jalan yang benar. Setelah goro-goro, akan ada perang tanding antara Satria Pembela Kebenaran dengan musuhnya (Si Jahat) yang tentu saja akan membawa korban.

Saat ini Indonesia di bawah pemerintahan Presiden SBY sedang diuji dengan sangat hebat oleh maraknya kasus korupsi, namun dari banyaknya kasus korupsi yang ada, kasus Sesmenpora adalah kasus yang paling banyak menguras energi karena melibatkan M Nazaruddin, koleganya di Partai  Demokrat. Ada dilema yang nampak tersirat, ada kehati-hatian, dan ada banyak teka-teki yang tak terungkap. Wajar, kasus ini bak pedang bermata dua yang siap menusuk keluar dan ke dalam Partai berlambang mercy ini. Selain itu, perhatian rakyat Indonesia juga sedang tertuju pada kasus ini karena menyangkut komitmen SBY dan Partai Demokrat yang gencar dengan slogannya pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi.

Atas kasus ini, Partai Demokrat harus terpuruk karena mulai banyak ditinggal pendukungnya (Survei LSI, 12/6/2011). Seperti diketahui, Nazaruddin merupakan Bendahara Umum Partai Demokrat dan pada 30 Juni 2011 KPK telah meningkatkan statusnya dari saksi menjadi tersangka. Persoalan tidak cukup sampai disitu, Nazar kabur dari Indonesia dan dari tempat persembunyiannya dia terus membongkar borok Partai Demokrat melalui BlackBerry Messenger (BBM) dan menyeret rekan-rekan separtainya seperti Andi Malarangeng (Menpora), Angelina Sondak (Anggota DPR), Mirwan Amir, dan Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat) yang disebut-sebut terlibat dalam kasus Sesmenpora dan menerima aliran dana haram. Terang saja informasi tersebut menggemparkan publik Indonesia dan langsung merusak citra Partai yang terkenal antikorupsi ini, meski para pihak yang dituduh menyangkalnya.

Nazaruddin bukanlah orang sembarangan, dia pernah menduduki posisi elit Bendahara Umum di partai besar sekelas Demokrat, tentunya dia tahu seluk beluk dan rahasia dapur Partai Demokrat. Selain itu, sampai saat ini buronan Interpol ini juga masih menjadi anggota DPR aktif. Sehingga tidak berlebihan jika O.C. Kaligis sebagai pengacaranya dalam suatu kesempatan berujar “Jika Nazaruddin buka semua, republik ini akan goncang“. Namun lebih baik negara ini goncang sejenak asalkan hukum ditegakkan di negeri ini karena belum ada sejarahnya sebuah negara hancur karena menegakkan hukum dan kebenaran yang ada justru negara hancur karena korupsi, seperti yang terjadi di Romawi, Babilonia, dan Uni Soviet yang hanya mampu bertahan selama 70 tahun. Hal itu terjadi karena negara tersebut gagal memberantas korupsi yang merasuk tokoh-tokoh pemerintah dan birokrasi negara.

“Tikus Pithi Anoto Baris“, bisa jadi Nazaruddin adalah aktor dari goro-goro ramalan ketujuh Joyoboyo ini. Sekarang perang opini sudah ditabuh, saling serang, saling membuka aib, menguji kebenaran versi masing-masing. Tapi semua itu harus segera berakhir, jangan sampai rakyat marah dan akhirnya mendorong angkatan muda untuk keluar dan menyusun barisannya seperti yang pernah ditafsirkan Sujiwo Tejo. Namun lebih dari itu, sebagai orang timur, sebagai bangsa yang adhiluhung, ada baiknya kita merenungkan petuah bijak berikut "Bejane sing lali, bejane sing eling, nanging isih beja sing waspadha" artinya "Beruntung bagi yang lupa, beruntung bagi yang ingat, namun masih lebih beruntung bagi yang waspada". Semoga peristiwa akhir-akhir ini adalah peringatan yang terbaik bagi kita untuk senantiasa peduli dan waspada, telebih waspada dengan serangan balik koruptor karena bukan tidak mungkin ia akan kembali dan menghancurkan impian kita akan Indonesia yang bebas dari korupsi.